ngajii
Sumber: Zuk (Forum Ngaji)

Sayup-sayup terdengar lantunan rindu atap masjid Al-Muhtar ISI Yogyakarta dikecup manja pasukan gerimis ba’da isya. Sekelompok mahasiswa  duduk melingkar di teras sembari tangan mencomot gorengan dan snack yang disajikan pengurus Forum NGAJI (Ngasah Jiwo). Malam jum’at yang dingin bagi para bujangan, tampak hangat di masjid Al-Muhtar kala itu. Bagaimana tidak? Mahasiswa/i  yang malam itu menembus hujan demi menimba ilmu dan tafakur berjamaah tampak begitu polos, cengar-cengir sambil menyuap keripik kentang  dihadapan mereka serupa makan nasi. Sesekali ada yang tersedak lalu secepat kilat meneguk  kopi panas terdekat, kemudian monyong-monyong kepanasan sendiri.

Setelah enam minggu berlangsung tanpa absen, Forum Ngaji masih istikomah mengajak mahasiswa untuk menghidupi masjid kampus dengan diskusi seputar seni, budaya, dan Islam sebagai payungnya.  “Santun dalam Intelektual” sebagai tema yang diusung turut menghangatkan suasana diskusi pada hari kamis (7/3/2017), dibimbing oleh bapak Dr. Nur Iswantoro selaku pembicara.

Diskusi dimulai dengan pembacaan puisi karya K.H Mustofa Bisri a.k.a Gus Mus yang berjudul “Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat” oleh Alfin Rizal, salah satu pengurus Forum Ngaji. Dilanjutkan dengan penjabaran Dr. Nur Iswantoro yang menjelaskan definisi “Santun Dalam Intelektual” secara etimologi, pemaknaan, hingga praktik dan kajian tema tersebut dalam ajaran Islam. Mahasiswa yang hadir tampak begitu antusias dan hikmat dalam memperhatikan penjabaran Dr. Nur Iswantoro. Ini yang membuat saya bingung! sepengetahuan saya, di dalam jejeran peserta diskusi yang hadir malam itu, terdapat beberapa pasukan Ashabul Kahfi alias jagoan tidur seperti saya, ditambah lagi sejuknya suasana pasca hujan, bebas keluar masuk masjid Al-Muhtar yang memang di desain tidak berdinding tinggi. Saya sendiri kehilangan selera tidur sejak Dr. Nur Iswantoro memulai penjelasannya yang menganjurkan sikap santun bagi masyarakat intelektual hari ini. Bisa jadi semangat peserta diskusi juga dipicu sajian kopi dan hak mereka untuk menyulut gulungan tembakau selama diskusi berlangsung. Wah! Kalo dosen-dosen yang mengajar ilmu-ilmu teori di perkuliahan juga menghalalkan rokok dan kopi, bukan tidak mungkin populasi mahasiswa yang membawa bantal ke kampus menurun drastis bung!

Nah, ketika Dr. Nur Iswantoro menutup penjabarannya terkait tema, tampak beberapa peserta saling lirik satu sama lain, beberapa peserta sudah mulai memadamkan rokoknya. Mereka ancang-ancang mau Tanya! Luar biasa~ kalo dosen kuliah sejarah seni rupa Indonesia saya melihat reaksi ini, sudah pasti beliau menangis terharu. Bagai mana tidak? Ini loh, diskusi dengan kajian agama, padahal biasanya konteks agama seperti tabu bagi para cendikiawan kreatif yang tidak mau dikekang norma-norma yang terlalu konvensional. Lah kok bisa, peserta yang sebagian besar mahasiswa seni, pasang ancang-ancang untuk bertanya seperti lomba balap karung berhadiah Tamiya semasa kecil kita dulu?

Sebab saya ngawur, saya angkat tangan sebelum dipersilahkan. Dan Alhamdulillah dianggap sah sebagai penanya pertama. Saya sendiri mengalami kebingungan menafsirkan santun di dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Indonesia kan luas, budayanya melimpah, ragam tatanan norma sosialnya pun beragam. Lantas bagaimana kita menafsirkan Santun yang sebelumnya didefinisikan sebagai “halus”? sedangkan di jawa sendiri, makin ke timur makin beda praktik sikap halus yang diterapkan. Dan tidak satupun dari praktik itu yang patut di salahkan. Sebab memang di tiap daerah, terdapat takaran dan norma-norma bermasyarakatnya sendiri-sendiri.

Dengan sabar Dr. Nur Iswantoro menyimak ocehan serampangan saya. lalu menghela nafas sejenak, dilanjutkan senyum imut nan gemes sambil mulai membagi pengalamannya terkait kunjungannya ke berbagai daerah di Indonesia semasa kuliah dulu. Dr. Nur Iswantoro kemudian menjelaskan prihal pemaknaan sifat santun yang sebenarnya sangat luas, dan hendaknya pula kita sebagai kaum intelektual membawa diri dengan lebih adaptatif pada tiap lingkungan baru yang kita jumpai. Bahwa bahkan dalam mempraktikan sikap santun, kita juga harus mengenal baik pemahaman masyarakat sekitar kita tehadap sikap santun itu sendiri. Sehingga Di Mana Bumi Dipijak Di Situ Langit Dijunjung.

Sesaat suasana hening. Seya melihat beberapa teman memandang saya. “oke! Makasih pak” ucap saya melihat beberapa teman sudah memasang ancang-ancang lagi.

Pertanyaan berlanjut diiringi diskusi hangat pada tiap pertanyaan yang diajukan. Hingga waktu diskusi yang seharusnya selesai pada pukul 21:00 WIB ngaret lebih setengah jam. Moderatornya malah sendiri keasyikan nonton orang bertanya sambil mengunyah snack macam nonton Fifty Shades of Grey di Cinemaindo.com.

Terkait kajian Ngasah Jiwo pada minggu kelima yang banyak membahas niat,dan penjelasan Dr. Nur Iswantoro pada minggu keenam ini. saya mengambil kesimpulan bahwa bentuk sikap santun dalam intelektual sebenarnya diawali dengan santun sejak dalam hati (niat). Tidak memandang rendah lawan bicara, sabar, mengormati perbedaan pendapat, dan memiliki rasa belas kasih kepada sesama dalam   lingkungan Intelektual  maupun di luar lingkungan intelektual itu sendiri. Perihal praktik, sudah sewajarnya kita memiliki praktik yang tidak lepas dari unsur kebudayaan dan lingkungan kita tumbuh, tidak masalah. selama kita tetap mencoba bersikap sebaik mungkin dan mau belajar lebih adaptatif terhadap lingkungan dengan norma-norma sosial yang berbeda. insyaAllah, Santunmu diridhoi oleh-Nya.

4 April 2017

Anugrah Dwi A

Mahasiswa Seni Kriya ISI Yogyakarta 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s